Sabtu, 15 Ogos 2015

Sejati Nya Ini Lah Perang Kita.

Ternyata,
Rasa ini masih belum mati,
Ia cuma luka pedih kan mengucup sembuh,
Serentak dengan kaki yang melangkah maju,
Membunuh rindu yang gila memerahi segala,

Sejati nya ini lah perang ku,
Tanpa pedang,
Tanpa perisai,
Tanpa ledakan,

Tapi ini adalah api yang marak,
Tak merentungi sesiapa,
Cuma penghapus kisah lalu,
Membawa ku ke hadapan menuju gerbang dunia baru,

Kali ini pasti lebih sukar,
Dan sejatinya ini lah perang ku,
Kala terang tak mencium semua,
Aku perlu berada di sini, sendiri,
Mengubati luka,

dan Kau lihat bagaimana aku berlari,
Dalam menahan pedih,
Ku simpan air mata,

dan kau kuat kan lah diri mu,
Tegak kan harapan mu,

Sejati nya ini lah perang kita.

Jumaat, 14 Ogos 2015

Sejati Nya Ini Lah Perang Kita.

Ternyata,
Rasa ini masih belum mati,
Ia cuma luka pedih kan mengucup sembuh,
Serentak dengan kaki yang melangkah maju,
Membunuh rindu yang gila memerahi segala,

Sejati nya ini lah perang ku,
Tanpa pedang,
Tanpa perisai,
Tanpa ledakan,

Tapi ini adalah api yang marak,
Tak merentungi sesiapa,
Cuma penghapus kisah lalu,
Membawa ku ke hadapan menuju gerbang dunia baru,

Kali ini pasti lebih sukar,
Dan sejatinya ini lah perang ku,
Kala terang tak mencium semua,
Aku perlu berada di sini, sendiri,
Mengubati luka,

dan Kau lihat bagaimana aku berlari,
Dalam menahan pedih,
Ku simpan air mata,

dan kau kuat kan lah diri mu,
Tegak kan harapan mu,

Sejati nya ini lah perang kita.

Isnin, 10 Ogos 2015

Sempit

Menekan kata hamburan rasa,
Melempar soal tanpa mata,
Semua gawat dilaung gamat,
Selain ia jadi tersangka,
Namun,
Meniti hari menanti tamat,
Yang tertinggal dibiar busuk,
Saki baki harapan ke dalam longkang,
Semua sempit sendiri,
Tiada yang menguli,
Tiada yang iri,
Ia sempit sendiri.

Khamis, 6 Ogos 2015

Perintah

Dibalas pula dengan soal,
Malah punya ku bagi ku fikir,
Biar aku sendiri tahu,
Ruang ku sempit,
Gelap,
Tak mampu ku terang,
Suntuk,
Cukup dengar,
Cukup akur,

Ini kehendak ku,
Punya ku,
Biar akal ku perah sendiri,

Tawar

Saat ini sedang tawar,
Tak rasa semua dilupa,
Dan tak percaya bagi membagi,
Yang ada sebagai teman cuma,
Cukup tersekat di situ,
Tak mau lagi tersisip kenang,
Lebih senang begini lewat pematang,
Menguat kan teguh ku rentas berjuang,
Silakan ikut sementara begini,
Hingga nanti balik bersimpang,
Berpapasan hilang kenang.

Rabu, 5 Ogos 2015

Cahaya Bulan

Cahaya bulan sama tak berarti,
Meski ia sering terang menerangi,
Mendampak garis riang tawa kita,
Hingga rumput kering terus menyala,
Tapi terlalu terang buat dalam hati kita,
Sedang kita samar dalam rangkulan,
Aku di mana dan kau entah ke mana,
Kau di sini tapi aku entah di mana,

Di waktu depan,
Saat begini,
Moga ada yang terluah.

Samar

Kau terjurumus,
Dalam waktu nya,
Bayang semu teranggap mimpi,
Tahu pasti tiada janji,
Kerana angan tak pernah pasti,
Dan puncak selalu kabut,
Sedang mata selama kelabu,

Kali ini,
Terserah atas pandang mu,
Serta isi kepala mu,
Semoga pedih perih kau atasi,
Jangan lagi mati sebelum berapi,
Biar hingga lautan dikibar kan api,

Selasa, 4 Ogos 2015

Bingkai.

Asal nya,
Aku adalah sebuah lukisan bisu,
Meski dicoret banyak warna,
Orang hanya nampak warna kelabu,
Bukan salah mata mereka,
Mungkin tiada warna yang menonjol,
Oleh demikian,
Aku sering dilangkau tika seleksi,

Demikian aku keluar,
Tinggalkan kehidupan dalam bingkai,
Melukis diri ku sendiri,
Aku lakar jalan ku sendiri,
Ku pilih sendiri warna buat ku,
Namun tetap juga aku dilangkau,
Malah mereka ludah,
Mereka hapuskan semuanya,

Oleh sebab itu lah,
Kini aku dilukis oleh mereka,
Jalan ku mereka yang lakar,
Mereka juga yang mewarnakan,
Dan aku hanya akur,
Ketika aku dibingkaikan,
Asal mereka suka,
Agar aku tak lagi dilangkau.

Sabtu, 1 Ogos 2015

Menara Langit

Aku mendaki langit
Demi angan yang bernyawa
Tinggal kan keheningan
Yg menyekat nafas ku sesak            

Masih ku panjat langit
Demi wujudnya sekalian harapan
Menghapus sisa-sisa sendu
Yang menyekat nafas ku sesak

Tak tertahan pedih nya
Di bawa hilang tanpa cerita
Setelah semua yg terbagi
Di bawa hilang tanpa tanda

Maka ku panjat menara langit,
Demi terwujud semesta harapan,
Agar terhapus  keheningan,
Yang ingin membunuh ku

Menara Langit

Aku mendaki langit
Demi angan yang bernyawa
Tinggal kan keheningan
Yg menyekat nafas ku sesak            

Masih ku panjat langit
Demi wujudnya sekalian harapan
Menghapus sisa-sisa sendu
Yang menyekat nafas ku sesak

Tak tertahan pedih nya
Di bawa hilang tanpa cerita
Setelah semua yg terbagi
Di bawa hilang tanpa tanda

Maka ku panjat menara langit,
Demi terwujud semesta harapan,
Agar terhapus  keheningan,
Yang ingin membunuh ku