Rabu, 23 November 2016

Apa yang buruk?

Apa yang buruk?

Mungkin... waktu dia tiba-tiba merajuk,
Ahh tapi itu kelemahan aku...tak pandai baca hati.. aku selalu pentingkan diri..
Atau... saat dia mula 'overthinking' atau terlalu pesimis tentang perihal dirinya...
Walhal aku yang sepatutnya begitu..
Hmm..
Dan..ketika dia menjebak ku jatuh hati kepada nya tapi... dia menghalang ku untuk mengungkapkannya..

Biarlah,
Dunia memang begini,
Semua datang dan pergi,
Sementara aku tetap tinggal di sini...
Menanggung hening dan sepi..

Selasa, 22 November 2016

Siulan Bungkam

Pagi ini,
Dia tak lagi berdiri di tepi tingkap,
Tiada erti tirai jendela tersingkap,
Terang tak bernyawa di himpit gelap,
Sang merpati lesap tak kunjung hinggap,

Setiap kisah yang dia cipta,
Hikayat kalbu yang terungkap,
Hilang dan mati di tengah hidup,
Tiada satu yang berakhir senyum,
Malah tiada yang melambai tangis,

Dia telah melakar sendiri langit untuknya,
Di antara sepi mencengkam pelangi,
Serta pilu membungkam siulan murai,
Meski tiada mentari,
Meski tiada bintang,
Meski awan berlalu tak menyapa,
Meski angin meniupkan kesenduan,
Biarlah,
Dia telah melakar sendiri akan langitnya.

Isnin, 7 November 2016

Yang Tinggal Cuma Janji ku Pada Ayah

Aku,
Tak ada lagi waktu,
Buat sempat ku berehat,
Aku dipaksa gerak,
Tapi gerak ku ini terbatas,
Dibatas belenggu yang tak mampu ku lepaskan,
Aku punya jalan selesa,
Sampai selesai semua ini terlerai,
Tapi aku terbelenggu di atas jalan sejauh jiwa ku pada langit biru,
Segalanya semakin sukar, semakin payah,
Yang tinggal kini cuma janji ku pada ayah,
Aku akan tetap tegar melayani hidup ini,
Hidup sepeninggalannya,
Dan sampai waktu itu nanti,
Aku pun akan turut pergi....

Sabtu, 5 November 2016

Hujungnya.

Lihat lah senja yang berlabuh,
Meninggalkan kita di atas luka-luka,
Serta darah yang tak tersurutkan,
Juga dendam yang mematikan,

Apakah ini hujungnya?
Jiwa kita menerawang di antara hidup yang singkat,
Mata kita menembusi warna keheningan dan kesenduan,
Hakikat nya kita sering tinggal di atas kehilangan dan sirna,

Apakah ini hujungnya?
Dua jalan masih bertelagah,
Tapi keduanya sama berduri,
Sedang kita terbelenggu di antara janji dan harapan,
Hakikatnya kita sering tinggal di atas kehilangan dan sirna.

Sabtu, 1 Oktober 2016

Soal Demi Soal

Semalam seorang teman ku bertanya,
"Di manakah kita?"
Isi kepala ku bertelagah,
Di antara kenyataan dan penyataan,
Nyatanya "kita di tempat tinggi"
Penyataannya "di manakah kita?"
Aku sendiri pun hilang,
Malah kabur ditelan kabut,

Tahukah masa sukar yang telah aku lalui,
Supaya kita melihat jelas fajar menyinsing,
Supaya jauh kita dari hiruk pikuk dan keheningan,
Hingga yang tinggal cuma angin dan hembusan nafas kita,

Teman ku masih tetap memaku dengan soalnya,
Dan aku mesti memandang jauh ke hujung nyawa,

Buat Mata Muda Penerus Lagenda Mata Tua.

Aku tahu apa yang kau rasa,
Yang terkandung dalam hati mu,
Tatkala melihat aku di balik ketabahan mu,
Ketika aku masih mencuba mengerjakan kecintaan ku meski kudrat tak selayaknya seperti mu,
Meskinya kau sukar mencari kesempurnaan dalam kekurangan ku,
Yang kau tahu aku degil, aku keras hati, aku hanya tahu bermain-main dengan kelenaan,
Aku tahu kalau dulu,
Sewaktu aku yang periang datang mengadap mu,
Meminta sedikit wang buat mengisi masa kecil ku,
Dan kini aku tak seperti yang kau manjakan dulu,
Aku tahu kau memperhatikan aku,
Itu tanggung jawab yang tinggal,
Tak mengapa,
Cuma,
Jangan sesekali kau anggap aku yang setakat begini,
Sedang mati dalam kesunyian.

Jumaat, 30 September 2016

Siapakah Aku Saat Ini?

Semakin aku membisu,
Semakin sibuk jiwa ku berbisik,
Soal perjalanan serta destinasi,
Sempit sesak singkat menuju keinginan,
Siapa pun tak akan mampu mendiamkan,
Sisi gelap di antara terang dan harapan,
Sendirian aku terpaku di dalamnya,
Setelah pendiri pergi tak kembali lagi,
Siapa kah aku ketika ini?
Siapa kah aku tanpa nya?
Selama ini aku hidup dengan prinsipnya,
Sedangkan saat ini,
Susuk tubuh nya tinggal dalam bayangan,
Surut semakin surut,
Segenap ruang dada yang pernah terisi,
Seisi panorama keindahan semesta kehidupan,
Semesta dunia,
Sedangkan saat ini,
Sedikit pun madah tak membina sukma ku,
Sejarah silam tentang aku dan dia menjadi kitab buat merungkai rahsia lebih besar,
Sekarang hanya itu yang tinggal,
Supaya aku tahu tentang diri ku,
Sampai aku tahu dan rindu pada Tuhan,
Sampai aku tenang menyeberang titian menuju ke dalam dakapannya,
Sampai aku bahagia di bawah segenap keredhaan Nya.

Rabu, 14 September 2016

Damai Lah Di Sana Abah

Abah.

Dalam blog ni telah beberapa kali aku menyebut nama itu. Abah.

Tentang peribadinya, nasihat dan pedoman hidup yang diajarnya aku isi dalam blog ini. Boleh kata semua yang aku tuliskan di sini adalah kata-kata Abah. Blog ini dilahirkan oleh rasa kagum ku pada Abah.

Saat aku mengarang entri ini, Abah telah pun meninggalkan kita semua hampir sebulan yang lalu.

Sebenarnya saat ini aku masih buntu untuk dimulakan dari mana kehidupan baru ini. Tapi semakin aku mengarang dan mengetik papan kekunci membina kata-kata satu persatu, semakin aku hampir kepada jawapannya.

Abah tak pernah terlepas satu hal pun dalam mengajar aku dan iza dalam berusaha menjalani kehidupan, tapi Abah tidak pernah mengajarkan kami untuk hidup tanpa beliau di sisi.

Atau perlu aku biarkan Abah hidup dalam hatiku kerana aku tak mungkin pula mahu melupakan raut wajahnya. Ahh. Ini merupakan kerinduan paling dahsyat pernah aku rasakan.

Mujurlah, aku punya pengalaman menghadapi kehilangan anggota, ia adalah sesuatu yang lebih rapat berbanding manusia.  Kemujuran itu menjadikan aku agak bersedia menghadapi kehilangan.

Almarhum juga pernah berkata berkali-kali,

"Jangan putus asa dengan Allah"

Kali ini aku faham arti nya., semua dugaan ini adalah nikmat dari Allah supaya aku menjadi lebih kuat dan bersedia menghadapi kehidupan seterusnya.

Aku pun melihat perjalanan ku masih panjang dan jauh. Tanggungjawab pun semakin banyak. Perjuangan semakin getir. Tapi membesar dengan kata-kata, teguran dan tunjuk ajar Abah menjadikan aku kuat dan tenang menelusuri segala kemungkinan yang bakal datang sesudah ini.

Di saat-saat terakhir Abah pergi meninggalkan namanya yang indah, Abah masih menginspirasi aku untuk melalui saat-saat getir seperti itu. Dia tenang dan tersenyum melayan kami yang tak henti berdoa kepada Allah semoga segalanya dipermudahkan. Aku mesti jadi seperti Abah, di saat itu dia masih tenang dan tak sekalipun mengeluh.

Malah saat itu almarhum masih sempat bertanyakan keputusan ujian akhir semester anak perempuan yang menjadi hasil dan bukti dari perjuangannya, Iza. Abah memang selalu menemankan Iza menanti keputusan ujian sejak Iza mulai melanjutkan pelajarannya di universiti. Malam itu adalah yang terakhir. Besoknya, Abah pergi menurut kehendak ilahi.

Sebelum ini, cukup Abah seorang menguatkan semangat Iza, hari ini, tugas itu tidak mampu untuk aku tanggung seorang diri.

Aku perlu ramai orang...Amak, Abang Eri, Kak Epi, Kak Dina, Bang Zal, Kak Niki serta seluruh ahli keluarga besar. Juga teman-teman nya, Enys, Tasya, Mira dan lain-lain. Sahabat dekat ku, Aboy Fitri, Akim, Angah, Awer, Hanis, Shuk, Aboy Azwar, Dush, Lis dan ramai lagi.

Ini adalah perjuangan dan harapan Abah. Ia mesti diteruskan kalau aku mahu mengaku sebagai legasinya. Dan ia mesti disudahkan.

Semoga Abah tersenyum dan bahagia di sana.

.......

Dia pernah berkata,
Dipetik dari firman Maha Pengurnia,
Dijadikan amanat buat hidup di dunia,
"Tuhan tak menjadikan makhluknya tanpa berguna"
"Jangan berputus asa dengan nikmat Allah"
"Untuk hidup yang selamat, cukup Berjalan Lurus Berkata lah Yang Benar"
"Belajar untuk dapat kerja itu sia-sia"
"Jangan pernah menghitung-hitung nikmat Allah"
"Jika duka itu datang, jangan sedih, mungkin itu adalah lebih baik untuk kita"
"Kalau rasa apa yg kita mahu katakan itu tak guna, baik diam"
"Jantung kita berdegup menyebut 'Allah'..iringilah ia dengan lidah dan hati menyebut Allah apabila kita diam"

Sedikit pituah Abah yang menjadi panduan serta kekuatan buat ku.



Selasa, 19 April 2016

"Tangan kau kenapa dik?"

"Tangan kau kenapa dik?"

Atau,

"Tangan tu memang dari kecik ke?"

Begitu lah antara soalan lazim yang amat sangat kerap diaju kan oleh masyarakat terhadap aku.

Lalu, jawab aku.

"Eksiden bang,"

Haha, part lepas ni akan jadi subjek bagi topik karangan aku kali ni,

"Eksiden motor ea?"

"Kena langgar dengan lori bang, naik motor, arwah kawan saya rider, saya duk belakang, yang arwah tu terus jatuh bawah tayar lori."

Respon orang tu adalah pada wajah nya akan sedikit berbentuk aneh dan kelakar,

Yang bagus akan terus kan sesi temuramah macam tanya aku tinggal kat mana, kerja ke tak, well...

Yang menjengkelkan akan seperti ini,

"Itu lah budak-budak sekarang, tak ada nak fikir perasaan orang tua, dilarang marah, dah kena baru tau menyesal."

Erkk..orang macam ni adalah masalah yang lebih besar daripada semua masalah yang pernah ada dalam sejarah dunia.

Geng...

Pertama sekali, takdir memang tak boleh nak dielakkan, walau macam mana pun kita berhati-hati, berjaga-jaga, musibah tetap kan datang. Cuma, lain orang, lain pula bentuk nya.

Apa yang perlu bagi kita ialah, selalu bersedia untuk menghadapi perjalanan hidup sesudah ditimpa sesuatu musibah.

Sesudah bukan ketika.

Erti nya, musibah akan ada untuk setiap orang. Apabila musibah itu datang, kita mesti menerima dengan hati terbuka. Iya lah kan.. nama pun musibah bukan hadiah. Walaupun di kemudian nya nanti ia akan jadi hadiah. Nak disalah kan, bila fikir balik nak salah kan siapa? Buang masa sebenarnya. Oh, melainkan sesuatu musibah yang menuntut kita supaya menuntut . Tapi itu kan memang akan ada prosedur.

Cuma, untuk move on dari musibah tersebut bila pulak nak mulai?

Haaaa....kat situ lah peranan masyarakat. Tolong orang yang ditimpa musibah dan dugaan ini untuk move on. Bukan buat dia rasa yang dia salah atau orang lain salah.

Macam tu juga lah dengan orang tua, bantu anak tu supaya tak patah semangat, tunjuk kan dia peluang. Bukan suruh fikir pasal orang tua. Sebab mana kita tau dia tak fikir pasal orang tua? Tak mungkin jugak masa dia tengah melarat tu nak fikir pasal orang tua?

Sekarang aku cacat, tangan kudung, sebelah lagi tak berapa berfungsi. Tapi okay lah, aku masih boleh buat perkara yang aku suka. Yang cakap macam tu tadi...iya lah..dia kan tak kenal aku.

Sebab tu lain kali tanya, tak pasal-pasal dia kena marah dengan Abah..

Haha



Rabu, 13 April 2016

Aku Mendaki Gunung

Ah. Kali ni, aku nak cerita tentang mendaki gunung. Eh? Dah kenapa kan tiba-tiba cerita pasal gunung? Haaa begini cerita nya....

Asal nya aku orang yang malas nak menghadapi sembarang tantangan melainkan perkara yang aku suka. Misal nya, aku suka kalau lah ada awek cun yang nak couple dengan aku. Akan ku rentasi lautan berapi, ranjau berdiri walaupun sukar. Perghhhhh!!

Tapi apabila perkara yang aku tak suka tiba-tiba datang daripada perkara yang aku suka tersebut. Sampai perkara yang aku tak suka tu buat aku tersungkur teruk dan nyaris tak boleh bangun lagi.

Tapi!

Aku kan Syafie anak Yusran, aku tak boleh duduk diam, tiba-tiba aku jadi sangat mengidam dengan tantangan. Maka aku metafora kan semua ini dengan 'puncak'.

Bukan lah nak jadi 'hiker' dan mencipta apa-apa record, cuma nak mencabar diri. Bayang kan aku mendaki tak pakai tangan, aku cuma perlu langkah yang besar dan peha yang kuat. Bayangkan setiap tentangan memerlukan aku berfikir dengan cepat dan muktamad.

Aku cuma ingin merasakan kepayahan luar biasa untuk mencapai matlamat. Begitu lah kira nya. Harap faham.

Sebab benda ni bukan pasal fitness siapa paling bagus, gunung mana lebih susah, siapa yang lebih hebat, tapi...

Ini tentang pengalaman dan matlamat.

Aku masih ingat waktu aku kata kat Daus yang naik gunung best,

Daus jawab,

"Setiap pendakian, akan ada kisah yang berlainan,"

Itu yang buat aku tertarik. Sebab tu bila orang cerita pasal gunung, apa yang aku tanya bukan trek atau tinggi nya, tapi permandangan di puncak.

Lepas ni, kalau PC aku dah elok, aku akan ceritakan pengalaman ni. Menaip kat smartphone tak feel lah..