Khamis, 31 Disember 2015

Selamat Tahun Baru.

Di hujung meja,
Tempat ku menulis dan melukis,
Juga tempat ku merenung,
Ada lembaran catatan,
Yang sendiri tercatat,
Sendiri tercatat,
Tentang segala nya yang dibelakang,
Tentang semalam dan kelmarin,

Ia ku biar kan,
Tak mahu ku semak,
Biar ia di situ,
Sebentar lagi akan ku simpan,
Sebentar lagi akan ku ganti,
Dengan lembaran yang baru.

Selamat tahun baru.

Rabu, 23 Disember 2015

Pedang Tumpul.

Kadang kita jadi pahlawan,
Dengan pedang di tangan dijulang,
Melontar amarah dalam kata tanpa nilai,
Terlihat gagah pedang dihunus sesama kita,

Sesama kita,
Yang bergelut untuk keluar dari timbunan kisah sukar yang menghimpit,
Sesama kita,
Yang hidup di bawah langit merah tak bertepi,
Sesama kita,
Yang tak sedar siapa yang menimbunkan haru-biru ini ke atas bahu kita,
Sesama kita,
Yang menyimpan pedang buat iblis yang sedang tertawa dalam mahligainya,

Selasa, 22 Disember 2015

Aku Dan Harum Mawar

Limpahan cahaya rembulan,
Tak tertanggung indah nya,
Tegar ku berdiri di antara kerdip bintang dan kedinginan,
Diguyur daun gugur dan embun pada nya,
Tak terasa sakit kala kesejukan mulai menyentuh ku,
Hidup seluruh nafas hingga ke pagi,

Aku dan harum mawar,
Di antara pepohon dan batu-batuan,
Aku dan harum mawar,
Sejenak menjelang cemas rindu,
Aku dan harum mawar,
Menatap langit dan jutaan bintang,
Aku dan harum mawar,
Ku peluk erat sebelum ia menghilang,

Tinggal kan sedikit kelopak nya,
Agar harum mawar jadi azimat,
Bawa lah sekian janji,
Menghadapi malam dan senja,
Untuk pagi buat kita isi.

Isnin, 21 Disember 2015

Raga Di Sudut Pusara

Kaca di samping jendela,
Cahaya terhadang tirai,
Kamar dingin nya pagi,
Embun menyaluti kaca,

Wajah sendiri ku tatap,
Raga di sudut pusara,
Jiwa lemah meratap,
Hiba datang mendera,

Panorama berwarna kesenduan,
Sekian pelangi berjalur kelabu,
Awan tebal menghitam,
Hutan meracau menakutkan,

Tidur ku diperalat mimpi,
Diterjah hingga terpuruk,
Dihambat nya luka ku yang lama,
Menitis kembali darah dan air mata.


Ahad, 20 Disember 2015

Subjektif 4

Sekiranya aku berkata 'kenapa perlu jauh kau mencari? Padahal aku ada di sini'

Bukan bermaksud aku cuba menunjukkan aku juga berpengaruh, tapi aku cuma memberitahu yang kau harus berkongsi cerita dan pendapat dengan orang yang dekat dengan kau.

Dan tak semestinya aku.

Isnin, 14 Disember 2015

Niat ku.

Kadang aku di bawa jauh ke suatu daerah yang mula nya nampak pasti,
Tapi aku kemudian nya laksana ombak yang menghempas pantai,
Berhempas pulas mencapai pesisir dan kemudian nya kembali karam ditelan lautan,
Tah apa yang sepatutnya ku pegang?,
Digesa aku mengutip cahaya buat bekalan masa depan,
Tapi aku sama sekali tiada berhak memikirkan tentang tujuan sendiri,
Walau mereka menuduh ku 'terlalu memikir kan orang lain sedang aku masih begini terdera',
Apa perlu aku ulang tentang niat?
Ternyata yang mendekat cuma memperlihat kan aksi wira nya,
Wira dalam syair dan prosa semata,

Diturut, tiada diri sendiri,
Diturut diri sendiri, pekak tak dengar kata,
Degil, sombong, bongkak,

Dera yang menghambat,
Tak kunanti mentari,
Tak kunanti rembulan,
Biarlah cuma Tuhan yang tahu,
Bertapa deritanya menghidapi kesepian di kala terang,
Ditertawakan kala kegelapan membunuh penglihatan,

Ini lah luka dalam balutan,
Semoga setiap sendi ini kekal teguh nya,
Kerana perjalanan ini terlalu muda buat sebuah perjuangan sejati,
Perjuangan cinta dan harapan orang.

Isnin, 30 November 2015

Subjektif 3

Suara angin mengilai,
Melintasi telinga ku,
Hilang mata ku di kala hiba yang membisik,
Karam ke dalam genang air mata yang terpancar dek getaran hati mengikut rentak pilu nya esak tangis mereka,
Seluruh tubuh ku ternyata tiada upaya nya meski selama hidup ku di bawah langit terang,
Semua di sini hanya mampu melaung kalimat kepedulian,
Tapi diam beralasan 'masa nya belum tiba'
Serta 'janji Tuhan itu pasti'

Maaf kan aku saudara,
Karna terpaksa berdiam,
Supaya jangan pula saudara menyangka aku tak punya keperdulian akan kesengsaraan saudara sekeluarga,
Lebih duka yang akan mengguris jika aku cuma berpura-pura kelihatan perduli dan setelah nya nanti kembali beralih kepada sesuatu yang beruntung kan dunia untuk diperdulikan,

Saudara ku yang teraniaya,
Kisah kekuatan saudara sekeluarga telah menghadirkan kecekalan dalam diri ku yang sering mati sebelum membuka mata,
Layu sementara masih belum berkembang pula,
Kuat kan lah hati mu saudara ku,
Penderitaan kita adalah sama persisnya,
Cuma saudara nampak penderitaan yang datang,
Sementara penderitaan yang mengenai ku  tidak pula berjisim,
Hanya hati yang tiba-tiba nya terasa pedih kerana terguris luka oleh orang di sini juga,
Dipijak dan diperbodohkan oleh tetangga yang gila kuasa, tamak,

Semoga dapat lah saudara mengerti seperti mana aku mulai mengerti yang hidup ini cukup sekadar berjuang untuk bertahan serta tanggungjawab ke atas setiap yang kita telah hasilkan. Juga menjejak kebenaran supaya perjalana kita lurus dan terang benderang,

Doa dan harapan ku semoga kesejahteraan kembali ke dakapan saudara,
Semoga Allah S.W.T meredhai.


Khamis, 26 November 2015

Subjektif 2

Di dasar kolam hati,
Berenang suara kata-kata,
Datang dari rasa ku yang pahit,
Sebab aku tak ingin mati sebelum berkembang,
Secara bicara di dasar kolam,
Tiada akan mendengar, tiada akan mengerti,
Malah aku terpulau jauh dari judul hari ini,
Walau terbata dan terbelenggu,
Ini kisah yang harus ku tugaskan,
Melayan ingin nya, melayan rantai nya..

Rabu, 25 November 2015

Subjektif

Jendela kamar ku,
Pernah dibuka,
Seseorang yang kuhilangkan,
Kala raga nya menjajah hati ku,
Lumpuh akal ku , akar jiwa ku,
Ketar lidah ku kala bicara nya kusambut,
Persis angin yang memunculkan fizikal nya,
Namun juga seperti api, menghunus kekeringan ku,

Kerana terbuka nya jendela di masa dunia juga gelap,
Malah dia cuma raga, bukan cahaya,
Aku hilangkan sebelum aku kembali jatuh,
Lalu ketakutan.

Selasa, 24 November 2015

Bertahan Untuk Menangis

Kisah ku tentang malam,
Gelap tak bersayap,
Tetap melayar mimpi,
Meski jatuh dan tenggelam,

Tentang kisah duka mereka,
Suara tangis suci,
Di antara hidup dan mati,
Atau bangkit ikut lontar kerikil,

Bertahan lah,
Semua masih tidur,
Bertahan lah,
Semua sedang tidur,
Bertahan lah wahai yang berlumur darah,
Semua tetap kan tidur lena....

Di tidur ada mimpi,
Bertahan lah dan menangis.